insights.

Updated: Jun 18, 2020


PT Pointera Aktuarial Strategis was founded by actuarial and financial practitioner with commitment on quality and tested experience in the area of life insurance, health insurance, general insurance, pension fund, investment and employee benefit schemes. With the vision to be the most trusted advices, Pointer has been established for more than 10 years by insurance and pension fund practitioner with more than 20 years experience.


Pointer provides end-to-end life insurance consulting covering insurance company establishtment, business planning development, insurance product development, reserve valuation, operational review, appraisal value and merger and acquisition.


In pension fund and employee benefit, Pointer perform actuarial calculation based on PSAK24 / IFRS19, pension fund establishment, Post-Employment Benefit design, DB/DC conversion, Post-Retirement Health Care design and insurance products' vendor selection.


PT Pointera Aktuarial Strategis holds Ministry of finance license since 23 November 2004 based on decree No. KEP-468/KM.5/2004.


KKA I Gde Eka Sarmaja, FSAI and PT Pointera Aktuarial Strategis merge to KKA I Gde Eka Sarmaja, FSAI dan Rekan and has received license number 5.20.0002 based on Ministry of Finance Decree No. 231/KM.1/2020 dated 19 May 2020.

128 views0 comments

Sandwich generation merupakan generasi yang hidupnya terjepit di antara dua generasi dan masih menanggung beban untuk memikirkan kehidupan generasi lainnya, sehingga terkadang kebutuhan untuk berinvestasi terhadap diri mereka sendiri pun kadang terabaikan.


Data BPS tahun 2017, menunjukkan persilangan trend jumlah penduduk balita vs lansia. Harapan usia yang semakin meningkat menyebabkan generasi sebelum kita akan kehabisan tabungan pensiun mereka sehingga akan bergantung pada anak dan bergantung pada subsidi dari “negara” yang sumbernya pajak dari generasi pekerja taat pajak. Di sisi lain generasi sandwich banyak menunda menikah dan/atau mengurangi jumlah anak karena kadang membantu orang tua mereka untuk menanggung biaya pendidikan adik-adiknya yang masih sekolah, atau orang tua dalam keadaan sakit yang berkepanjangan yang menguras tabungan pensiun.

Jika dulu cukup salah satu saja yang bekerja, kini semakin banyak suami istri keduanya perlu bekerja untuk meringankan beban. Kesulitan untuk menabung guna membeli rumah dibantu dengan tinggal di PMI (Pondok Mertua Indah) untuk sementara waktu hingga cukup tabungan untuk membeli rumah dan mengurangi beban biaya yang tidak perlu seperti jasa penitipan anak maupun biaya membersihkan dan merawat rumah.

Salah satu bentuk tunjangan yang diberikan bagi golongan lansia berupa bantuan iuran jaminan kesehatan melalui BPJS Kesehatan. Mayoritas lansia saat ini termasuk dalam kategori miskin dan rentan miskin akibat tidak memiliki tabungan yang cukup untuk membayar pengobatan saat sakit. 


Bentuk subsidi lainnya cukup beragam, mulai dari fasilitas panti jompo yang dikelola pemerintah, layanan publik seperti pengurusan administrasi maupun transportasi tidak dikenakan biaya atau mendapat potongan harga. Hal ini diatur dalam Undang-undang Kesejahteraan Lanjut Usia No 13 tahun 1998 dan lebih lanjut dalam PERMENSOS no. 5 tahun 2018 tentang Standar Nasional Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia.


Saat ini jumlah lansia sekitar 23 juta dan akan naik dua kali lipat menjadi 45 juta pada 2035, tentunya beban subsidi ini akan semakin hebat dan akan memberikan tekanan pajak yang semakin besar bagi generasi pekerja yang membayar pajak dalam 15 tahun mendatang

Jika tidak diperhitungkan dengan matang, generasi sandwich akan kesulitan untuk menyisihkan tabungan untuk dirinya sendiri saat mereka menjadi Lansia karena pada saat mereka menyokong orang tua, beban untuk membesarkan anak juga akan semakin tinggi karena biaya pendidikan dan kesehatan meningkat jauh di atas kenaikan pendapatan atau inflasi. Data BPS 2017 menyatakan 1 dari 4 lansia masih perlu bekerja berlebihan, dan rasio ini nampaknya akan semakin besar saat generasi sandwich menjadi lansia dan berpotensi tidak pernah merasakan pensiun yang “utuh” karena terpaksa harus bekerja jika masih sehat untuk memenuhi biaya hidup di hari tua.


Program Pensiun merupakan sebuah program yang bekerja melalui sistem subsidi pajak. Maksudnya semakin besar tabungan dikelola melalui program pensiun, semakin besar juga potensi potongan pajak yang diterima oleh generasi sandwich ini. Ada 3 aspek subsidi pajak yang diberikan oleh generasi sandwich yaitu :

1. Saat menyisihkan penghasilan sebagai iuran pensiun


Jika anda melaporkan SPT tahunan, akan ada satu bagian jumlah iuran pensiun yang mengurangi pendapatan kotor tahunan yang akan diperhitungkan sebagai penghasilan kena pajak. Benar seluruh penghasilan anda yang disisihkan dalam sistem pensiun tidak dipotong pajak. Beda halnya dengan konsep anda membeli produk investasi dari gaji yang diterima dalam rekening bank, maka investasi tersebut adalah bagian dari penghasilan anda yang sudah dipotong pajak.


Contoh berikut menggambarkan rasio pajak menabung pensiun vs tidak menabung pensiun serta selisih dari penghasilan yang langsung menjadi investasi.

Karyawan A dengan penghasilan bulanan 16 juta dan mengiur 10% dari penghasilan bulanannya, maka karyawan A akan menerima subsidi pajak sebesar 1.1% atau setara 2.6 juta per tahun. Subsidi pajak ini semakin meningkat sesuai dengan besar iuran pensiun yang disisihkan dan tingkat penghasilan yang diterima seseorang.


2. Saat tabungan pensiun di investasikan


Saat ini investasi melalui deposito dan obligasi, hasil investasi dari kedua instrument ini dikenakan pajak sebesar 20%. Keuntungan tabungan pensiun adalah hasil investasinya bebas pajak, jadi 20% dari hasil investasi ini tetap berada dalam tabungan pensiun anda dan akan diinvestasikan kembali untuk periode berikutnya. Dalam jangka panjang subsidi pajak ini akan memberikan dampak yang sangat signifikan pada tingkat akumulasi tabungan pensiun.


Contoh di bawah menggambarkan potensi selisih subsidi pajak dari akumulasi tabungan pensiun.

Jika investasi tabungan pensiun sebesar Rp. 10 juta memberikan hasil investasi rata-rata 8% sebelum pajak akan memperoleh tambahan lebih dari 21 juta dalam 25 tahun dibandingkan dengan melakukan investasi yang sama diluar program tabungan pensiun.


3. Saat manfaat pensiun dinikmati


Tahukan anda jika akumulasi tabungan pensiun diberikan subsidi pajak yang sangat besar jika dibandingkana manfaatnya langsung dibayarkan oleh perusahaan. Sebagai contoh jika manfaat pensiun Rp. 1 milyar, selisih pajaknya sebesar 12% sesuai perhitungan dalam tabel berikut.


Dengan selisih pajak yang sangat besar ini, sebenarnya sudah mulai banyak generasi sandwich mengharapkan tabungan pensiun ini dikelola oleh Dana Pensiun yang berhak memfasilitasi subsidi pajak atas manfaat pensiun ini yaitu dikenal dengan DPPK maupun DPLK.

Jadi jika digabungkan ketiga komponen subsidi ini melalui program Dana Pensiun, akan memberikan perbedaan yang sangat signifikan atas jumlah yang akhirnya bisa dinikmati sebagai manfaat pensiun di hari tua.


Sebagai bagian dari sandwich generation, kita tidak bisa menghidari tanggung jawab untuk mendukung orang tua dan anak secara aktif baik finansial maupun non-finansial. Namun jangan lupakan diri kita saat berada dalam posisi sebagai orang tua agar tidak mengulangi kesalahan yang sama dengan generasi diatas kita dengan mulai mengurangi beban untuk generasi dibawah kita melalui program pensiun dan subsidi pajak yang diberikan melalui sistem tersebut.


Agar bisa menjadi generasi sandwich yang tetap lezaaat saat menginjak hari tua, ayo kita gunakan bahan-bahan saus dan lapisan keju yang diperoleh melalui subsidi dan insentif perpajakan dalam sistem pensiun. Jadi diharapkan masa tua generasi sandwich akan tetap lezaat hingga akhir hayat dan memutus mata rantai generasi sandwich berikutnya.


GDe

27 September 2019

60 views0 comments
  • kkagd

Di banyak perusahaan kelompok pekerja milenial merupakan kelompok yang dominan saat ini. Kelompok ini dominan di perusahaan-perusahaan telekomunikasi, tekhnologi dan startup business. Rata-rata mereka sudah melek teknologi, mencari sendiri informasi melalui mbah Google.


Namun, perusahaan-perusahaan besar juga memiliki kelompok karyawan Baby Boomer dan Gen X dengan porsi yang cukup banyak. Mereka tentunya sedikit banyak mulai merasakan perbedaan-perbedaan kebutuhan dibandingkan saat mereka berada dalam posisi usia di bawah 35 tahun.


Contoh yang paling kelihatan adalah bagaimana cara karyawan menikmati gaji, bonus dan benefit yang diberikan perusahaan. Generasi Baby Boomer tentunya sudah mendekati usia pensiun dan mengharapkan pensiun yang ideal dengan menyisihkan lebih banyak ke program pensiun. Bila mereka masih punya cicilan rumah, ini juga akan menjadi prioritas mereka untuk segera dilunasi.


Berbeda dengan generasi X yang sebagian besar sudah berkeluarga dan memiliki anak usia sekolah. Program benefit asuransi kesehatan yang baik menjadi prioritas mereka di samping cukupnya waktu cuti untuk berlibur bersama keluarga.

Bagi kelompok milenial, sebagian merasa manfaat pensiun dan manfaat asuransi bukan manfaat yang menjadi prioritas. Daripada jaminan asuransi dengan fasilitas kamar kelas 1 atau VIP, mereka lebih menghargai jika diberikan fasilitas gym atau insentif untuk olah raga favoritnya. Demikian juga halnya dengan iuran pensiun, mereka perlu menabung untuk mengumpulkan DP bagi mobil atau rumah impian mereka. Dengan fasilitas yang diberikan pemerintah saat ini yaitu DP yang ringan untuk KPR, sebagian besar tabungan mereka pada akhirnya bisa jadi habis untuk belanja konsumtif secara online untuk gadget terkini, atau bepergian ke lokasi wisata instagramable untuk selfie.


Masalahnya masih sedikit perusahaan di Indonesia yang memberikan benefit yang cukup fleksibel bagi karyawannya. Biasanya program benefit dibedakan berdasarkan level jabatan, masa kerja dan lokasi kerja. Di negara tetangga Singapura, konsep flexible benefit ini sudah diperkenalkan sejak satu dekade silam. Hal tersebut muncul karena tenaga kerja yang tersedia di pasar cukup ketat dan banyak tenaga kerja asing dengan kebutuhan program benefit beragam. Flexible benefit merupakan upaya untuk memberikan akses terhadap benefit yang diberikan sesuai budget yang diberikan berdasarkan kebutuhan karyawan sehingga apresiasi value benefitnya menjadi maksimal. Karyawan juga menyadari bahwa benefit yang diberikan perusahan merupakan komponen reward yang satu paket dengan gaji maupun fasilitas lainnya.


Di Indonesia, baru sedikit perusahaan yang sudah menerapkan flexible benefit. Sebenarnya cukup banyak juga yang sudah melakukan kajian untuk menerapkan flexible benefit, namun terkendala biaya, berhadapan dengan proses yang rumit dengan manajemen serta Serikat Pekerja juga memberi andil flexible benefit belum masuk sebagai agenda prioritas bagi seorang Manajer HRD. Seringkali juga anggaran penyesuaian remunasi habis digunakan untuk kenaikan gaji sehingga tidak ada ruang untuk menambahkan atau merubah komponen benefit. Ada perusahaan yang merasa paket benefit yang diberikan sudah sangat tinggi dan khawatir dengan kesan kalau tingkat benefitnya berkurang. Atau di sisi lain ada juga perusahan yang merasa sudah cukup dengan memberikan benefit yang memang diwajibkan oleh peraturan dan merasa beban untuk benefit wajib sendiri sudah tinggi.


Sebenarnya program flexible benefit lebih banyak karena alasan untuk mengendalikan biaya, atau menambahkan opsi benefit tambahan/baru tanpa menambah biaya. Justru sering dilakukan saat perusahaan perlu efisiensi atau proses harmonisasi saat terjadi merger atau akuisisi. Pengalaman yang diperoleh oleh perusahaan-perusahaan besar yang terlebih dulu menerapkan program flexible benefit seharusnya bisa menjadi alasan kalau mitos flexible benefit akan menjadi beban tidak tepat, justru flexible benefit dapat menjadi sarana dalam mengendalikan biaya benefit secara efektif apalagi pada saat karyawan berbeda generasi menuntut ragam dan tingkat benefit yang berbeda. Jadi sebelum manajemen terpaksa harus memilih benefit mana yang harus ditingkatkan yang meningkatkan biaya, mengapa tidak memberikan opsi bagi karyawan untuk membuat keputusan dan memilih sendiri benefit mana yang mereka anggap penting dan bernilai tinggi.


Alasan utama menerapkan flexible benefit adalah meningkatkan value proposition dari program benefit yang diberikan. Hal ini menjadi mungkin karena setiap tahun karyawan diminta untuk memilih paket-paket benefit sesuai dengan budget yang dialokasikan. Dalam proses pemilihan paket ini, tentunya informasi mengenai rincian benefit dan biayanya juga akan menjadi pertimbangan bagi karyawan mengenai perlu atau tidak perlunya suatu benefit ditambah atau dikurangi.


Di jaman Now, memberikan program flexible benefit tentunya memerlukan sistem yang mumpuni. Artinya sarana untuk memilih paket benefit bagi karyawan dalam proses ini harus dilihat sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari benefit itu sendiri. Jika sistemnya asal-asalan, jangankan memilih, untuk masuk ke sistemnya saja sudah menjadi momok. Anda harus memastikan bahwa standar ekspektasi sistem yang diberikan dapat menyamai kenyamanan mereka mencari informasi melalui mbah Google dan belanja online di situs belanja yang terkenal.


Jadi, Now adalah saatnya beralih ke flexible benefit agar perusahaan anda bisa menjadi impian bagi talent jaman Now !


=IGD=

20 September 2019



Tourist photo created by rawpixel.com / Freepik

Business photo created by rawpixel.com - www.freepik.com

People photo created by freepik - www.freepik.com

548 views0 comments